Filed under: Jurnal
Ini lho… rumah baru saya… :
aldidas.blogspot.com
silahkan dicoba, mudah-mudahan bermanfaat . . .
Ini lho… rumah baru saya… :
aldidas.blogspot.com
silahkan dicoba, mudah-mudahan bermanfaat . . .
tertegun terduduk sendiri
menunggu sebuah tugas terselesaikan
memperhatikan sinar matahari surut perlahan
terang jingga berubah enggan perlahan
menjadi ungu kehitaman
wahai matahari, sudahlah…
waktumu hari ini sudah habis
angin senja menari-nari di pelipis ini
sesekali menerbangkan ujung rambut pendek lurusku
alunan merdu muadzin mengumandangkan adzan
semakin mengentarakan kenikmatan
bahwa Engkau masih terus Mengurusku
Membiarkan telingaku mendengar adzan-Mu dengan sempurna
memang segala puja-puji hanya Engkau yang pantas menerima
kendaraan lalu-lalang
mulai membiarkan lampu besarnya garang menyala
membunuh aspal jalanan
karena pengendaranya resah dilanda rindu
iya..
betul-betul rindu pada anak-anak di rumah
yang menanti sang ayah pulang dari kerja
satu lagi hari habis
satu hari lagi jatahku menipis
dan Engkau memang Maha Besar
Allahu Akbar Allahu Akbar
Asyhadu alla ilaha illallah
Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah
Hayya ‘alash sholah - Hayya ‘alash sholah
Hayya ‘alal falah - Hayya ‘alal falah
Allahu Akbar Allahu Akbar
La ilaha illallah
(gak tau kenapa, blog ini jadi album puisi . . . tapi, memang fenomena maghrib itu luar biasa !!! sayang dilewatkan begitu saja, Allahu Akbar !!!)
berpuisi dengan kuas . . .
apa kabar pelangiku?
sudah lama tidak melihatmu
bahkan, maafkan aku
jika aku sempat lupa urutan warnamu
walau hujan gerimis sering hadir
tapi kenapa dirimu jarang muncul?
sering aku sengaja menunggumu
senja demi senja
tapi kau tidak hadir disitu
pelangiku,
kamu harus tahu,
bahwa guratan warnamu sudah lama tidak mewarnai senjaku
bahwa guratan warnamu sudah lama tidak menghiasi gerimisku
pelangiku,
sepertinya sudah habis masaku untuk menunggu
karena warnamu sudah tidak menghangatkan lagi
maafkan aku pelangiku,
karena ceriamu telah habis tertutupi senjaku
pelangiku, selamat tinggal ya?
karena lembayung senja terasa lebih hangat,
dan bisa hadir tanpa menunggu gerimis
maka aku akan melupakanmu oh pelangiku
aku akan lebih banyak bercengkrama dengan lembayung senja
pelangiku,
mungkin ini senja terakhir aku menunggumu
(maafkan aku pelangi, aku benar-benar suka lembayung senja . . .)
Senja kali ini tidak jingga seperti biasanya
Senja kali ini ungu
Membiru
Entah lebam nanar tertonjok sang sedih
Atau memang hati senja sedang bersendu-ungu berharu-biru
Tidak menyisakan sedikitpun sakit sedihnya pada matahari
Atau sekadar mencoba sedikit berbagi pada bulan yang baru menyembul sedikit
Semua cukup ditelan sendiri
Burung-burung walet pun ikut berurai airmata
Walau senja tidak merasa,
Karena burung-burung itu mengerti betul perasaan sang senja
Ah senja
Seandainya aku bisa ada disitu, menemanimu
Walau hanya sekedar mendengar keluh-kesahmu
Tentu tidak perlu seungu itu warnamu
Dan
Mungkin jinggamu masih menyala terang
Maafkan aku, senjaku
Aku sedang sibuk, sangat sibuk
Bahkan hanya untuk sekedar membelai ujung rambutmu
Atau hanya untuk sekedar memeluk desir anginmu
Ah senja
Kapan aku bisa hadir lagi?
Esok sorekah?
Masih bolehkah aku hadir?
Ah senja
Aku rindu masa-masa dimana kita selalu punya waktu luang untuk bercengkrama
Berbagi cerita,
Berbagi berita,
bahkan berbagi penganan kecil
Yang dulu selalu aku bawa di dalam kantong mungil
Penganan kecil yang khusus kubawa untukmu
Ah senjaku, sudahlah
Lupakan ungu membirumu
Kamu sungguh terlihat cantik jika saja jingga warnamu hadir kembali
Ayolah, kenakan lagi lembayung kesayanganmu
Aku hanya ingin senjaku sejingga dulu
Aku hanya rindu senjaku yang dulu
"maaf - sedang melankolis"
gundah hati mengguncang lagi
mengerang lagi
menggiring diri menepi dari deru
dan coba meyakinkan
bahwa aku mampu
tenang.. tenang..
semua sudah direncanakan-Nya
bahkan
centilnya lembayung nila ungu yang mulai memudar
maupun lembut kelabunya sang rembulan yang mulai muncul
belum mampu menggerakkan sedikit senyum disini
senjapun berlalu berganti malam
aku cuman manusia kecil yang berpakaian serba hitam
jenuh diterpa angin malam
dan berusaha melepaskan penat pikiran dalam lengangnya jalanan menjelang malam
Ibu - Bapak, yang selalu kurindu, iringilah jalanku ini dengan bisikan lembut doa-doamu
Ya Allah Ya Rabbii… tuntun tangan kecilku ini, ajari aku berjalan, langkahku masih tertatih
takkan kubiarkan seseorang menggantikan-Mu
takkan kubiarkan sesuatu menggeser-Mu
takkan kubiarkan hatiku tergerak menjauhi-Mu
takkan kubiarkan tubuhku tergadai untuk selain-Mu
Ya Allah, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah segala urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, agar mereka mengerti perkataanku
Ya Allah, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sungguh hanya Engkaulah Yang Maha Pemberi karunia.
Ya Allah, janganlah Engkau siksa kami karena lupa atau bersalah. Ya Allah, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana telah Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Allah, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kamj, dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami dalam mengalahkan orang-orang kafir.
Berdiri di tepian ragu
Masih bingung, hendak melangkah atau malah mundur
Melangkah berarti masuk, jatuh ke sungai deras tak bertuan
Mundur berarti mengumumkan pada dunia
Bahwa aku pengecut
kok kenapa saya harus menjalani hidup seperti ini??? Beda jadwal libur?? beda jadwal kerja?? kenapa beberapa hal belakangan ini nampak begitu berat?? Please… i just want to be an ordinary people…
eit tunggu… heniiiinnngggg… (ceritanya lagi mikir)
hidup ini bukan cuma untuk jadi yang "ordinary" saja…orang-orang luar biasa yang tercatat dalam sejarah juga memiliki hidup yang luar biasa…hidup mereka tidak sama dengan kehidupan orang lain disekitarnya… because of that, i don’t want to be just an ordinary people…